Virus Nipah Setelah COVID-19

Virus Nipah Setelah COVID-19 – Wabah COVID-19 belum selesai dan masih terjadi tambahan kasus di dunia dengan adanya virus baru lainnya.

Tetapi, bukan hanya virus corona saja yang sedang memberatkan pemikiran banyak ahli kesehatan dunia. Dijumpai jika mereka tengah berusaha keras untuk mencegah virus nipah tidak jadi wabah seterusnya.

Virus Nipah dapat Menjadi Wabah Selanjutnya Setelah COVID-19!

Virus Nipah sebagai salah satunya tipe virus beresiko. Penyebaran virus nipah bisa terjadi lewat mediator hewan liar ke manusia. Walau belum teridentifikasi di Indonesia, Anda perlu tetap siaga karena virus ini diperhitungkan bisa mempunyai potensi jadi wabah.

Baca Juga: Tidak Sarapan Meningkatkan Resiko Penyakit

Supaporn Wacharapluesadee, periset asal Thailand dan teamnya ialah yang mengetahui kasus pertama COVID-19 di luar Tiongkok. Menurut dia, riset yang sudah dilaksanakan mendapatkan hasil jika ada beberapa virus yang lain terkait dengan virus corona yang sudah diketemukan pada kelelawar.

Salah satunya virus sebagai perhatian ialah virus Nipah (NiV) yang mempunyai tingkat kematian (mortality rate) tinggi. Virus Nipah adalah tipe virus yang bisa serang hewan dan manusia. Virus ini sendiri sesungguhnya pernah menyebar di sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, Bangladesh, dan India.

Kehadiran virus Nipah belum teridentifikasi di Indonesia sampai sekarang ini. Tetapi, beberapa kasus infeksi virus itu telah terverifikasi di negara yang bersisihan dengan Indonesia.

Karena itu, warga diinginkan agar semakin siaga pada virus yang diperhitungkan gampang menyebar ini. Berikut sejumlah hal yang perlu kamu kenali mengenai virus nipah.

Berawal dari Malaysia

Virus nipah pertama kalinya terdeteksi sebagai pemicu pandemi ensefalitis (radang otak) pada manusia yang contact dekat sama babi di Malaysia dan Singapura.

Penyakit ini pertama kalinya terdeteksi tahun 1998 oleh team periset dari Fakultas Kedokteran Kampus Malaya, Malaysia, saat terjadi pandemi di negara itu. Sebagian besar pasien terdeteksi penyakit itu ditunjuk dan dirawat di University of Malaya Medical Centre.

Virus pemicunya sendiri sukses diisolasi dan dideteksi di tahun 1999. Waktu itu, beberapa macam hewan memperlihatkan tanda-tanda demam, susah bernapas, dan kejang. Asal nama penyakit berawal dari sebuah dusun di Malaysia, yakni Sungai Nipah.

Menurut WHO, virus itu berawal dari kelelawar buah yang disebarkan ke babi saat terjadi penebangan rimba secara besar, hingga mengakibatkan komunitas kelelawar beralih dekati tempat peternakan.

Ternak babi yang sudah terkena bisa menyebarkan virus Nipah ke peternak dan peternak juga bisa menyebarkannya ke sama-sama manusia. Proses penyebaran yang gampang berikut yang jadikan virus Nipah diperhitungkan dapat mempunyai potensi jadi wabah.

Mempunyai potensi jadi wabah

Berdasarkan penjelasan dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), virus Nipah terhitung dalam penyakit infeksi emerging (emerging infectious disease). Penyakit tipe ini ada dan serang satu komunitas untuk pertamanya kali, atau sudah ada awalnya tapi bertambah dengan cepat sekali, bagus di dalam jumlah kasus baru dalam komunitas atau penebaran ke wilayah geografis baru.

Penyakit infeksi emerging mempunyai potensi tinggi mengakibatkan pandemi, wabah, dan dapat dengan status Genting Kesehatan Global atau Kedaruratan Kesehatan Warga yang Menggelisahkan Dunia. Oleh karena itu, tidaklah aneh virus Nipah terhitung di dalam 10 penyakit sebagai perhatian khusus Tubuh Kesehatan Dunia (WHO).

Ketahui Langkah Penyebaran Virus Nipah

Virus Nipah sebagai virus tipe RNA yang terhitung dalam kelompok Paramyxovirus. Kelompok virus ini dapat mengakibatkan penyakit lain, seperti pneumonia, gondongan, dan campak.

Virus Nipah dijumpai berawal dari hewan liar, seperti kelelawar pemakan buah (Pteropus sp.), dan hewan ternak, seperti domba, kambing, dan babi, yang terkena virus itu.

Penyebaran virus Nipah bisa terjadi saat manusia bersinggungan langsung dengan cairan badan hewan yang terkena, seperti air liur, darah, dan urine.

Disamping itu, beberapa penelitian memperlihatkan jika seorang dapat alami tanda-tanda infeksi virus ini saat dia konsumsi daging hewan yang terkena virus nipah, terutamanya yang diolah kurang masak.

Tidak cuman dari hewan ke manusia, virus Nipah juga dijumpai bisa menyebar antarmanusia. Seorang dapat terkena virus nipah jika dia pernah contact dengan pasien yang terkena virus itu.

Jadi pandemi di sejumlah negara di Asia

Di akhir September 1998 sampai tengah Juni 1999, virus Nipah jadi pandemi di Malaysia dan Singapura. Pandemi itu mengakibatkan 265 kasus ensefalitis, terhitung 105 kematian di Malaysia, sedang di Singapura disampaikan ada 11 kasus ensefalitis dan penyakit pernafasan dengan 1 kasus kematian.

Pandemi terjadi di Bangladesh di tahun 2001, dan semenjak waktu itu pandemi terjadi nyaris tiap tahun. Penyakit ini sudah terdeteksi secara periodik di India.

Tanda dan Gejala Infeksi Virus Nipah

Virus Nipah mempunyai periode inkubasi seputar 4-14 hari. Ini maknanya, seorang bisa alami tanda-tanda infeksi virus Nipah sesudah virus itu masuk di badannya dalam waktu itu.

Infeksi virus Nipah bisa memunculkan tanda-tanda ringan yang serupa dengan tanda-tanda flu, tapi juga bisa memunculkan tanda-tanda berat yang beresiko mengakibatkan kematian. Saat terkena virus Nipah, seorang bisa alami gejala-gejala berikut:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Batuk
  • Sakit kerongkongan
  • Nyeri otot
  • Sesak napas
  • Muntah

Saat itu, pada kasus yang kronis, infeksi virus Nipah dapat mengakibatkan peradangan pada otak (ensefalitis).

Orang yang menanggung derita ensefalitis karena infeksi virus nipah dapat alami tanda-tanda berbentuk gampang mengantuk, susah konsentrasi dan fokus, dan disorientasi atau mungkin tidak dapat mengenali waktu, tempat, dan seseorang, terhitung orang paling dekatnya.

Untuk peradangan otak yang lumayan berat, keadaan ini bahkan juga dapat mengakibatkan penderitanya alami kejang, bengkak otak, dan koma.

Tidak ada obat yang bisa mengobati infeksi virus Nipah, begitupun vaksin untuk mencegah penyakit ini. Tetapi, beberapa orang yang terkena virus ini dapat pulih sendirinya.

Pada kasus yang kronis, misalkan terjadi ensefalitis, orang yang terkena virus Nipah dapat alami kompleksitas beresiko, seperti kerap kejang, pengubahan personalitas, atau bahkan juga wafat.

Tingkat kematian yang tinggi

Virus Nipah mengakibatkan penyakit yang beresiko. Karena, periode inkubasi yang lama, yaitu 45 hari, hingga memungkinkannya seorang yang terkena tidak mengetahui dianya sakit dan dengan gampangnya menyebarkan ke seseorang. Penyakit ini juga tidak ada vaksinnya.

Berdasarkan penjelasan dari WHO, angka kematian karena penyakit terdaftar di antara 40 sampai 75 %, yang mana ini tergantung pada kekuatan lokal untuk surveylans pandemiologi dan management medis.

Mencegah Penyebaran Infeksi Virus Nipah

Mencegah selalu lebih bagus dibanding menyembuhkan. Karena itu, untuk mencegah penyebaran virus Nipah, Anda dianjurkan untuk mengikut cara-cara berikut:

  • Hindari contact dengan kelelawar atau hewan ternak yang beresiko terjangkit virus Nipah. Bila perlu, Anda dapat menempatkan jala di seputar rumah untuk mencegah kelelawar masuk di di rumah.
  • Cuci bersih buah dan sayur saat sebelum dimakan dan jauhi konsumsi buah atau sayur yang kotor dan terlihat telah tergigit oleh binatang.
  • Gunakan alat perlindungan diri, seperti sarung tangan, sepatu bot, dan perlindungan muka, saat bersihkan kotoran atau urine hewan.
  • Selalu bersihkan tangan sebelum dan setelah berhubungan dengan hewan atau orang yang sakit, khususnya yang mempunyai tanda-tanda infeksi virus Nipah.
  • Hindari konsumsi daging kelelawar atau daging hewan ternak yang diolah kurang masak.

Walau tidak ada laporan kasus infeksi Virus Nipah Setelah COVID-19 di Indonesia, Anda perlu tetap siaga karena virus ini gampang menyebar dari hewan atau orang yang terkena, hingga dipandang mempunyai potensi jadi wabah.

Itu banyak hal yang harus dipahami mengenai penyakit yang disebabkan oleh virus Nipah, yang dicemaskan menjadi wabah seterusnya. Masih menjaga kesehatan dan taati prosedur kesehatan. Mudah-mudahan wabah cepat berakhir dan tidak ada wabah-pandemi seterusnya.